Helo :)
Sudah lama banget ya rasanya nggak nulis di blog ini.
Rasanya sebel sendiri deh. Dari dulu punya blog tapi jarang banget diisi, jarang posting. Kebanyakan karena sibuk, nggak punya waktu luang, lebih banyak lagi karena malas. Yes, sekalinya ada waktu luang, lagi senggang, justru tergoda untuk melakukan hal-hal lain. Melahap novel, nonton film, nonton drama Asia, tidur *ups.
Belakangan ini fokusku tersita untuk beradaptasi di kantor baru, menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru, dan tentu saja dengan lingkungan baru. Aku bukan orang yang mudah terbiasa, sehingga butuh waktu yang tidak sebentar untuk menikmati semua itu. Satu dan lain hal terkadang menjadi batu sandungan--kurasa tidak hanya sekadar batu sandungan, tapi tembok besar nan kokoh berdiri di hadapanku, menghalangi jalanku. Well, aku perlu bekerja keras untuk terbiasa dan bertahan. Sebelumnya aku memang punya masalah soal pekerjaan. Lebih ke urusan prinsip. Beberapa kali aku harus berhenti dari satu perusahaan karena etos kerjanya tidak sesuai dengan prinsipku. Sejak lulus kuliah, aku sudah bekerja di empat perusahaan berbeda--lima dengan tempat kerjaku sekarang. Dari ke empatnya, hampir semua di mana aku memilih berhenti karena prinsip yang tidak sesuai. Di tempatku yang sekarang kuharap aku akan bertahan lama, paling tidak hingga kebutuhan-kebutuhan jangka pendekku tercapai. Aku bukan orang yang loyal pada perusahaan, jujur saja. Orientasiku bukan karir. Bagiku pribadi, karier seorang wanita sesungguhnya adalah menjadi istri dan ibu rumah tangga. Ketika dia berhasil membangun keluarga yang harmonis bersama suaminya, berhasil mendidik anak-anaknya menjadi orang yang bermanfaat, maka di situlah prestasinya. Itu cita-cita terbesarku. Tapi ... sekarang mungkin belum bisa, karena aku perlu mengorbankan cita-cita itu demi menghidupi ayah dan ibuku.
Berpikir tentang tulis-menulis, beberapa waktu lalu aku akhirnya menghapus hampir semua cerita fiksi yang dipublikasi sebuah situs penggemar. Cerita-cerita yang sudah kuterbitkan selama rentang 8 tahun ini sejak aku bergabung di situs itu. Rasanya memang disayangkan. Sebelum melakukan itu pun aku melalui banyak pertimbangan, salah satunya adalah pertanyaan pada diriku sendiri, apakah aku tidak akan menyesal setelah menghapusnya. Namun kemudian akhirnya tekadku bulat untuk menghapus cerita-cerita itu. Yang kuterima kemudian adalah protes dari para pembaca. Banyak yang menyayangkan, banyak yang menghujat, dan beberapa dari mereka mencoba memahami apa yang kulakukan meskipun (kemungkinan besar) mereka tidak tahu apa alasanku. Aku sudah menduga akan menerima komentar-komentar itu. "Kenapa dihapus?" "Sayang sekali." "Kau membuatku kecewa." Dan sebagainya. Terkadang komentar-komentar itu membuatku jengah dan sedih (terkadang kesal). Tapi aku sudah putusakan untuk tidak akan mengembalikannya. Aku sudah memutuskan dan aku yakin keputusan itu benar. Teman-teman dekatku mendukungku dengan bijak, aku beruntung memiliki mereka.
Jadi ... apa sebenarnya alasanku menghapus cerita-cerita fiksi itu?
Aku berpikir dan berpikir ulang apa sebenarnya tujuanku menulis. Hingga pada akhirnya aku menemukan sesuatu yang pernah kujadikan prinsip dalam menulis. Aku ingin menginsipirasi orang lain dengan tulisanku. Ya, aku pernah bercita-cita seperti itu. Penulis favoritku adalah Tere Liye, dan itulah yang kurasakan ketika membaca tulisan-tulisannya. Inspirasi. Betapa kagumnya aku padanya, sehingga beliau tidak hanya sekadar penulis favorit untukku tapi juga role modelku dalam tulisan. Aku ingin menulis seperti beliau, aku ingin menginspirasi seperti beliau. Dan melihat lagi tulisan-tulisan yang pernah kubuat, aku jadi malu sendiri. Manfaat apa yang bisa kudapat dari tulisan-tulisan ini? pikirku. Paling-paling hanya sebagai hiburan, tidak ubahnya cerita-cerita sinetron murahan di televisi lokal, tidak ada bedanya dengan obrolan seru perempuan-perempuan yang suka bergosip.
Tapi sesungguhnya Allah menciptakan setiap manusia dengan sebuah kelebihan. Mungkin aku dianugrahkan kelebihan dalam menulis, merangkai kata-kata (menurut teman-teman pembaca aku berbakat). Semua kukembalikan lagi pada Sang Pencipta. Jika memang ini kelebihanku, maka insya Allah aku akan memanfaatkannya untuk kebaikan.
Semangat! :D
Sudah lama banget ya rasanya nggak nulis di blog ini.
Rasanya sebel sendiri deh. Dari dulu punya blog tapi jarang banget diisi, jarang posting. Kebanyakan karena sibuk, nggak punya waktu luang, lebih banyak lagi karena malas. Yes, sekalinya ada waktu luang, lagi senggang, justru tergoda untuk melakukan hal-hal lain. Melahap novel, nonton film, nonton drama Asia, tidur *ups.
Belakangan ini fokusku tersita untuk beradaptasi di kantor baru, menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru, dan tentu saja dengan lingkungan baru. Aku bukan orang yang mudah terbiasa, sehingga butuh waktu yang tidak sebentar untuk menikmati semua itu. Satu dan lain hal terkadang menjadi batu sandungan--kurasa tidak hanya sekadar batu sandungan, tapi tembok besar nan kokoh berdiri di hadapanku, menghalangi jalanku. Well, aku perlu bekerja keras untuk terbiasa dan bertahan. Sebelumnya aku memang punya masalah soal pekerjaan. Lebih ke urusan prinsip. Beberapa kali aku harus berhenti dari satu perusahaan karena etos kerjanya tidak sesuai dengan prinsipku. Sejak lulus kuliah, aku sudah bekerja di empat perusahaan berbeda--lima dengan tempat kerjaku sekarang. Dari ke empatnya, hampir semua di mana aku memilih berhenti karena prinsip yang tidak sesuai. Di tempatku yang sekarang kuharap aku akan bertahan lama, paling tidak hingga kebutuhan-kebutuhan jangka pendekku tercapai. Aku bukan orang yang loyal pada perusahaan, jujur saja. Orientasiku bukan karir. Bagiku pribadi, karier seorang wanita sesungguhnya adalah menjadi istri dan ibu rumah tangga. Ketika dia berhasil membangun keluarga yang harmonis bersama suaminya, berhasil mendidik anak-anaknya menjadi orang yang bermanfaat, maka di situlah prestasinya. Itu cita-cita terbesarku. Tapi ... sekarang mungkin belum bisa, karena aku perlu mengorbankan cita-cita itu demi menghidupi ayah dan ibuku.
Berpikir tentang tulis-menulis, beberapa waktu lalu aku akhirnya menghapus hampir semua cerita fiksi yang dipublikasi sebuah situs penggemar. Cerita-cerita yang sudah kuterbitkan selama rentang 8 tahun ini sejak aku bergabung di situs itu. Rasanya memang disayangkan. Sebelum melakukan itu pun aku melalui banyak pertimbangan, salah satunya adalah pertanyaan pada diriku sendiri, apakah aku tidak akan menyesal setelah menghapusnya. Namun kemudian akhirnya tekadku bulat untuk menghapus cerita-cerita itu. Yang kuterima kemudian adalah protes dari para pembaca. Banyak yang menyayangkan, banyak yang menghujat, dan beberapa dari mereka mencoba memahami apa yang kulakukan meskipun (kemungkinan besar) mereka tidak tahu apa alasanku. Aku sudah menduga akan menerima komentar-komentar itu. "Kenapa dihapus?" "Sayang sekali." "Kau membuatku kecewa." Dan sebagainya. Terkadang komentar-komentar itu membuatku jengah dan sedih (terkadang kesal). Tapi aku sudah putusakan untuk tidak akan mengembalikannya. Aku sudah memutuskan dan aku yakin keputusan itu benar. Teman-teman dekatku mendukungku dengan bijak, aku beruntung memiliki mereka.
Jadi ... apa sebenarnya alasanku menghapus cerita-cerita fiksi itu?
Aku berpikir dan berpikir ulang apa sebenarnya tujuanku menulis. Hingga pada akhirnya aku menemukan sesuatu yang pernah kujadikan prinsip dalam menulis. Aku ingin menginsipirasi orang lain dengan tulisanku. Ya, aku pernah bercita-cita seperti itu. Penulis favoritku adalah Tere Liye, dan itulah yang kurasakan ketika membaca tulisan-tulisannya. Inspirasi. Betapa kagumnya aku padanya, sehingga beliau tidak hanya sekadar penulis favorit untukku tapi juga role modelku dalam tulisan. Aku ingin menulis seperti beliau, aku ingin menginspirasi seperti beliau. Dan melihat lagi tulisan-tulisan yang pernah kubuat, aku jadi malu sendiri. Manfaat apa yang bisa kudapat dari tulisan-tulisan ini? pikirku. Paling-paling hanya sebagai hiburan, tidak ubahnya cerita-cerita sinetron murahan di televisi lokal, tidak ada bedanya dengan obrolan seru perempuan-perempuan yang suka bergosip.
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. -Rasulullah saw- (HR. Thabrani)Di mana letak gunanya tulisanku jika itu tidak bermanfaat bagi pembacanya? Dan satu lagi yang kutakutkan dari tulisan-tulisanku adalah ketika ada hal buruk di dalamnya (meskipun aku tidak bermaksud menulisnya) lalu ditiru oleh pembacanya. Maka ketika dia berdosa, aku pun mendapatkan dosa yang sama, karena sejatinya akulah yang mencontohkan perbuatan buruknya. Astaghfirullah ... naudzubillahimindzalik. Sudah cukup apa yang sudah kutulis selama ini, hal-hal yang tidak bermanfaat. Aku tidak akan sanggup menanggung dosa karena perbuatan orang lain yang dicontohnya dari tulisanku. Maka aku berhenti.
Tapi sesungguhnya Allah menciptakan setiap manusia dengan sebuah kelebihan. Mungkin aku dianugrahkan kelebihan dalam menulis, merangkai kata-kata (menurut teman-teman pembaca aku berbakat). Semua kukembalikan lagi pada Sang Pencipta. Jika memang ini kelebihanku, maka insya Allah aku akan memanfaatkannya untuk kebaikan.
Semangat! :D