CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 08 Juni 2021

Cita-Cita Punya Bisnis Sendiri

 Sebenarnya sudah lama terpikirkan untuk punya bisnis sendiri.

Waktu kuliah dulu, aku pernah mencoba jualan kerudung. Beli barang di salah satu outlet (kecil tapi barangnya lengkap dan variatif) di salah satu sudut Jakarta. Awalnya belum berani beli banyak, cuma beberapa model, dengan satu-dua pilihan warna. Dijual via online. Pasang foto di Instagram, kalau nggak salah sempet promo di Facebook juga (udah lupa saking lamanya), dan ada yang aku tawarkan langsung via japri ke teman-teman dan kenalan yang ada di kontak WhatsApp.

Sebelum itu aku juga pernah ikut bisnis MLM. Jualan produk beauty care (namanya lupa). Berawal dari diajak teman SMA, mulai menawarkan ke tetangga atau teman-teman. Kalau nggak salah waktu itu belum ada smartphone, jadi jualannya manual langsung tatap muka ke calon pembeli.

Sayangnya bisnis kecil-kecilan itu selalu berumur pendek. Bukannya aku kurang serius menekuninya. Mungkin aku kurang gigih, ya? Mudah menyerah di awal. Melihat kurangnya minat pembeli, dan sifatku yang mudah bosan. Boleh jadi itu yang membuat bisnisku tak pernah berkembang.

Sekian tahun belakangan, sebenarnya aku masih sesekali berjualan. Macam-macam barang sih. Pernah jualan ikan bumbu punya teman. Pernah jual kerupuk kulit asli Garut--punya teman juga. Dan yang masih aku tekuni sampai sekarang, jadi reseller hijab--punya temanku juga sih xDD. Untuk saat ini aku enjoy berjualan barang dagangan punya orang, reseller. Lebih mudah karena tidak perlu memikirkan ide barang yang mau dijual, upgrade kualitas, dll. Yang jadi PR-ku tinggal bagaimana caranya barang yang kujual ini bisa laku banyak atau sesuai target. Strategi marketing.

Alhamdulillah selama 5 tahun terakhir ini aku bekerja di bidang marketing. Boleh lah dapat ilmu jualan meskipun aku cuma staf yang tidak terjun langsung di lapangan. Dibandingkan jualanku saat kuliah, tentu berbeda jauh dengan sekarang. Aku merasakan peningkatan dari segi bahasa penjualan, sampai ke semangat berjualannya. Mungkin melihat pengalaman teman-teman di kantor juga, aku banyak dapat insight dalam bidang ini. Aku pun merasa lebih percaya diri.

Sekarang aku terpikirkan untuk menekuni dengan lebih serius satu bisnis--maaf tidak bisa kusebut karena aku berharap bisnis ini bisa berjalan bagus tanpa perlu diumbar ke mana-mana dulu. Aku ingin mencoba sesuatu yang kreatif, ini bisnis jasa. Pangsa pasarnya lumayan, modalnya juga tidak terlalu besar. Aku mempersiapkan cukup banyak materi ilmu untuk ini--tapi belum cukup banyak karena aku tentu harus terus meng-upgrade ilmunya. Pastinya harus ada persiapan yang matang sebelum benar-benar terjun dan serius mengerjakan bisnis ini.

Karena sebenarnya bekerja jadi pegawai di perusahaan orang itu melelahkan. Tentu berbisnis juga melelahkan. Tapi lelah untuk dinikmati sendiri, itu lebih terasa puas bagiku. Bukankah ada pepatah, "Lebih baik jadi kepala kucing daripada jadi ekor harimau." Lebih baik jadi bos, memimpin (setidaknya dirimu sendiri) di perusahaan kecil tapi milik sendiri; daripada jadi bawahan, suruhan--kata anak milenial budak corporate--di perusahaan besar tapi milik orang lain.

Selasa, 01 Juni 2021

Welcome back, Aku!


Akhirnya aku kembali setelah hiatus, err... berapa tahun ya? Hehee...

Postingan terakhirku tahun 2018, well sekitar 3 tahun berhenti nulis. Rindu banget rasanya. Seperti ada yang hilang, ketika kamu biasa melakukan sesuatu lantas berhenti total. Karena menulis juga adalah hal yang sangat aku sukai, hiatus membuat hidupku tak terasa lengkap.

Setelah menikah, banyak yang berubah pada diriku. Sejak lahir tinggal bersama orangtua, begitu tinggal terpisah dengan mereka, aku mau tidak mau harus mandiri bersama suami. Banyak hal yang harus aku pelajari, dari mulai memasak sampai berbenah rumah, segala hal yang wajarnya dilakukan sendiri oleh wanita yang sudah menikah. Banyak waktuku tersita untuk pekerjaan rumah. Selain itu pekerjaanku di kantor 2 tahun belakangan ini pun overload, tak jarang terpaksa kubawa pulang dan mengerjakannya di sela waktu istirahat. Seolah tak ada waktuku untuk bernapas barang sebentar :(

Pun jika ada waktu luang, setelah menikah seolah aku tidak punya kesempatan serius untuk menulis. Aku tipikal penulis yang butuh ruang sendiri untuk menuangkan segenap pikiranku ke dalam rangkaian kata. Aku terbiasa menulis di kamar, tentu tanpa gangguan siapapun. Bahkan jika ada suara gaduh sedikit saja yang terdengar dari luar, aku sulit berkonsentrasi hingga tak sanggup melanjutkan tulisan. Atau jika aku kepepet untuk menyelesaikannya, aku harus menyumpal telinga dengan headset atau earphone dan menyetel playlist lagu andalan mood booster-ku. Kebayang lah setelah menikah aku tidak lagi punya semua kemewahan itu. Tinggal di rumah yang tidak besar, aku tidak punya ruang privasi untuk menulis. Ditambah lagi, suamiku termasuk orang yang amat ingin tahu apa saja yang kukerjakan meski itu di waktu santai. Dia tahu aku suka menulis dan sangat mendukungku. Tapi sungguh aku tidak bisa menulis apapun jika dia memperhatikanku wkwkw.

Memilih untuk menulis lagi adalah keputusan yang paling membuatku bahagia saat ini. Meskipun di sela waktu yang terbatas, aku akan berusaha untuk tetap menulis. Meskipun tidak banyak, hanya beberapa paragraf per posting. I'll do it!

Aku sadar menulis bukan sekadar hobi buatku. Ini seperti self healing. Ketika menulis, ada banyak pikiran yang mengalir keluar dari kepala, pikiran negatif maupun positif, yang selama ini hanya terpendam dan membuat stress. Seseorang harus melampiaskan beban pikirannya minimal dengan bicara. Buatku, menulis adalah caraku berbicara. Di setiap akhir dari tulisanku, ketika aku membacanya kembali, aku merasa bahagia. Bukan karena apapun yang kutulis, peduli amat isinya, tapi lebih kepala rasa plong, kelegaan yang kurasakan setelah melepas semuanya. Seperti halnya apa yang kamu rasakan setiap selesai curhat dengan orang yang paling kamu percaya.


Sabtu, 23 Juni 2018

Proses Per(panjang)an SIM

Tulisan ini kuposting tujuannya untuk catatan pribadi. Supaya lima tahun ke depan di saat aku perlu perpanjang SIM lagi, tinggal buka blog buat belajar dari pengalaman sebelumnya. Buat temen-temen yang mungkin perlu panduan untuk keperluan yang sama, silakan dipelajari sebagai gambaran. Setiap kantor cabang kepengurusan SIM di masing-masing daerah mungkin menerapkan prosedur yang berbeda. Tapi dengan membaca pengalamanku hari ini, setidaknya ada bayangan apa saja yang perlu dipersiapkan.


1. Datang sepagi mungkin
Pas hari ini aku datang adalah hari Sabtu. Pikirnya sih nggak banyak orang, makanya aku santai aja berangkat dari rumah. Ternyata ekspektasi dan realita selalu berjalan tidak seimbang. Aku sampai sana sekitar jam 8.30 pagi, UDAH RAME DONG!

Kayaknya sih ini efek pasca libur panjang Lebaran. Selain itu, dengar-dengar ada isu mulai tanggal 25 Juni nanti untuk pembuatan SIM baru maupun perpanjang bakal ditambah dengan psikotest. Nah, pasti orang-orang mikirnya lebih baik perpanjang sebelum tgl 25. Jadilah pasien-pasien SIM ini bertumpuk di SAMSAT Kebon Nanas di Sabtu pagi yang cerah tapi gerah ini.

Saranku buat next time, mau hari apapun usahakan datang pagi biar dapat nomor urut awal. Bahkan kalau perlu sebelum pintu loket dibuka udah stand by dengan cantiknya :D


2. Fotokopi SIM dan KTP
Dua dokumen ini adalah hal terpenting yang dibutuhkan untuk perpanjang SIM:
  • SIM 2 lembar
  • KTP 2 lembar
Lebih baik kamu siapkan dari rumah. Jangan fotokopi di sana! Memang sih ada layanannya, TAPI SANGAT TIDAK DIREKOMENDASIKAN. Kenapa? Kalau di tukang fotokopi pinggir2 jalan, bikin salinan SIM dan KTP masing-masing 2 lembar cukup bayar 500 perak. Tapi di sana, cuma buat masing-masing 2 lembar kamu harus keluar uang Rp5000. Kan sayang juga. Udah gitu pake ngantre. Mending disiapkan semuanya dari rumah, sampai sana tinggal ambil nomor dan duduk manis tunggu dipanggil ;)


3. Cek Kesehatan
Begitu sampai di kantor SAMSAT, segera ambil nomor urut untuk pemeriksaan kesehatan. Di SAMSAT Kebon Nanas Jakarta Timur, ruang pemeriksaan kesehatan letaknya ada di paling kanan dari depan, tempatnya menjorok ke belakang (lebih belakang dari tempat fotokopi). Ambil nomor urut di situ. Sebaiknya sih tunggu dipanggil juga di situ, jangan ke mana-mana. Pemeriksaannya cepat kok. Paling-paling 20 menit.

Dibilang pemeriksaan kesehatan pun sebenarnya cuma tes buta warna. Itu loh, melihat angka-angka berwarna di dalam warna. Seperti ini nih:





Di sini dikenakan biaya Rp25.000,00. Uang pas ya! Takut ibu dokternya nggak punya kembalian :p
Nanti dikasih kertas hasil cek kesehatan warna pink. Jangan sampai hilang, itu bakal diserahkan ke loket pendaftaran.


4. Loket Asuransi
Antrean berikutnya di loket ini. Yang harus diserahkan hanya fotokopi SIM dan KTP masing-masing 1 lembar. Biayanya Rp30.000,00. Selain bukti pembayaran asuransi dan kartunya untuk kita pegang, kita juga akan dikasih 2 lembar dokumen untuk diserahkan ke loket pembayaran biaya SIM. Di sana nyebutnya sih loket BRI, jadi jangan bingung ya gaes.


5. Loket BRI
Ini yang kubahas di poin sebelumnya. Khusus di loket ini nggak ada antrean karena prosesnya cukup cepat. Tinggal menyerahkan dokumen yang dikasih dari mbak petugas di Loket Asuransi, membayar biaya Rp75.000,00 untuk SIM C dan Rp80.000,00 untuk SIM A. Setelah itu kita dikasih dua bukti bayar, dua2nya dipegang jangan sampai hilang pokoknya.


6. Pendaftaran
Udah ngantre panjang kok baru sampai di loket pendaftaran? Ya, begitulah... Dengan bahasa mudahnya, proses2 panjang sebelum ini tuh cuma untuk menyiapkan dokumen pelengkap (hasil cek kesehatan, bukti bayar asuransi, dan bukti bayar biaya perpanjangan SIM).

Di loket ini, dokumen yang sudah kita punya harus diserahkan semua, jangan lupa fotokopi SIM dan KTP masing-masing 1 lembar lagi. Dokumen dicek oleh petugas, setelah komplit, semua distapler jadi satu bersama formulir warna biru yang harus kita isi lebih dulu. Formnya seperti ini:


Setelah formulir biru ini selesai diisi, dikembalikan lagi di loket tempat mengambilnya. Tunggu beberapa menit dipanggil untuk dapat nomor urut foto profil dan identifikasi data.


7. Foto dan identifikasi data
Dari pengisian formulir ke foto profil ini nunggunya lumayan lama. Bukan lumayan lagi sih sebenernya. Hari ini aku nunggu kurang lebih 2 jam. Dari duduk cantik di ruang tunggu, ngobrol sama pasien perpanjang SIM lain, bahkan sampai keluar cari makan. Udah balik pun masih nunggu lama lagi belum dapat giliran juga.

Denger-denger sih orang yang awal-awal dipanggil masuk untuk foto itu punya orang dalam atau pakai calo, entahlah. Sampai ada yang protes keras, makanya akhirnya orang-orang yang melewati prosedur resmi baru bisa dipanggil *pleasedehIndonesia *kapanmajunyakaloginiterus

Begitu nomor urutmu dipanggil di ruang foto, masuklah dan duduk dengan manis. Kamu bakal ditanya-tanya sedikit sama petugasnya. Tenang, jangan tegang. Pertanyaan identifikasi aja kok, cuma untuk memastikan data-data di dalam SIM kamu masih sama dengan data lama. Seperti alamat tempat tinggal, pekerjaan, tinggi badan, dll. Seandainya ada perubahan, bisa langsung diperbarui saat itu juga. Setelah itu kamu difoto. Jangan lupa pasang foto secantik/ganteng mungkin. Kalau perlu, dandan dulu sebelum masuk ruang foto *wkwkwk. Biar nggak menyesal nanti begitu liat fotomu di kartu SIM baru. Ini peringatan serius.

Selain foto, kamu juga harus menempelkan sidik jari dan tanda tangan digital di mesin khusus. Buat orang-orang yang sidik jari tangannya tipis sepertiku bakal agak susah. Aku harus mengulang sekali lagi hanya karena sidik jarinya nggak muncul di data base waktu pengambilan SIM baru. Bukan cuma menempelkan sidik jari ulang. Tapi juga foto dan tanda tangan, diulang lagi. Untungnya sih nggak perlu ngantre dari awal, hehee...


8. SIM baru!
Dari ruang foto, kamu tinggal tunggu sebentar untuk dipanggil ke loket sebelah. Di situ tempat pengambilan SIM baru. Cepat kok, paling-paling nggak sampai 10 menit. Nah seperti yang kuceritakan di poin sebelumnya. Asal data-datamu masuk ke data base, kamu nggak perlu mengulang ke ruang foto seperti aku.

Pada saat penyetakan kartu SIM, petugasnya bakal menambahkan pelapis anti gores macam yang ada di ponsel-ponsel layar sentuh. Tapi nggak gratis loh, kamu bakal dikenakan biaya Rp5.000,00. Sebenarnya itu pilihan. Kamu bisa bilang nggak perlu dipasang kalau memang nggak mau. Karena petugasnya nggak bilang apa-apa waktu pemasangan, lebih baik kamu cepat-cepat bilang supaya jangan dipasang. Jangan diem-diem bae, tapi nantinya ngedumel pas ditagih duit tambahan :p


Info tambahan:
Dari obrolan-obrolan dengan sesama pasien perpanjang SIM seharian tadi, mereka bilang mengurus perpanjangan SIM di mobil keliling lebih simpel. Cuma perlu menyerahkan fotokopi SIM dan KTP, foto di tempat, biayanya pun sama. Tapi kamu nggak perlu antre panjang dan ribet seperti aku hari ini. Yang perlu diingat, kamu harus tahu tempat-tempat nongkrongnya mobil SIM keliling ini. Risikonya ya udah sampai di tempat, eh tahu-tahu mobilnya nggak ada. Hehe....
Nggak ada salahnya dicoba kok. Kalau nggak ketemu mobilnya ya tinggal ke kantor SAMSAT wilayah masing-masing deh, ditambah siapkan mental ngantre panjang dan kesabaran tanpa batas :))

Demikian perjalanan panjangku mengurus perpanjangan SIM dari kantor SAMSAT Kebon Nanas Jakarta Timur.
Semoga bermanfaat...

Kamis, 21 Juni 2018

Go Back Couple

 Judul: Go Back Couple/Confession Couple
Genre: Romance, Fantasy
Sutradara: Ha Byung Hoon
Penulis Naskah: Kwon Hye Joo
Channel: KBS2
Jml. Episode: 12
Periode Penayangan: 13 Oktober s/d 18 November 2017
Pemain Utama:
Son Ho Jun sebagai Choi Ban Do
Jang Na Ra sebagai Ma Jin Joo
Pemain Pendukung:
Jang Ki Young sebagai Jung Nam Gil
Ko Bo Gyeol sebagai Min Se Young
Lee Yi Kyung sebagai Go Deok Jae
dkk...


Sinopsis

Rumah tangga Choi Ban Do dan Ma Jin Joo yang telah berjalan selama hampir 20 tahun harus berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan. Dua-duanya merasa sama-sama tidak bahagia, dua-duanya sama-sama menyesal telah bertemu dan jatuh cinta. Keduanya pun memutuskan untuk bercerai. Masing-masing melepaskan cincin pernikahan. Choi Ban Do melemparnya keluar jendela kamar, sementara Ma Jin Joo membuangnya di tengah jalan. Dan malam itu terjadi sebuah keajaiban, cincin pernikahan mereka lenyap. Apa yang terjadi? Ketika Choi Ban Do dan Ma Jin Joo terbangun di pagi harinya, mereka menyadari bahwa waktu telah berputar ulang ke masa 20 tahun yang lalu, hari sebelum mereka bertemu dan saling jatuh cinta.



Ulasan (warning: hati-hati spoiler!)

Tadinya sih nggak ada niatan nonton drama ini. Melihat dari judulnya saja aku kurang tertarik. Go Back Couple? Terdengar seperti kisah cinta yang bakal sangat klasik: sepasang mantan yang kemudian CLBK. Daftar pemainnya juga nggak bikin aku kepo sama drama ini. Yang kukenal cuma Jang Na Ra (yang belum pernah kutonton drama2nya). Paling-paling Lee Yi Kyung alias Junki si “gwenchana gwenchana” dari Waikiki yang akting bodornya bikin kangen *ngakak. Itu sebenarnya yang bikin aku pada akhirnya nonton Go Back Couple. Bingung mau nonton apa (padahal stok K-drama di harddisk lumayan banyak yang belum kesentuh). Trus ngelirik Go Back Couple cuma karena pingin liat si Junki jadi gondrong *ngakaklagi

Eh, tapi setelah aku (baca: terlanjur terpaksa) nonton drama ini, ke sininya malah baper. Ceritanya ternyata bagus. Nggak hanya mengedepankan persoalan cinta antara sepasang mantan menuju proses balikan, tapi juga pelajaran tentang hidup yang bisa diambil hikmahnya *duileh.

Aku suka bagaimana drama ini membuka ceritanya dengan ilustrasi dari tokoh wanitanya, bahwa happily ever after begitu sepasang kekasih menikah hanyalah milik cerita-cerita romantis dalam drama dan film, alias nggak nyata. Karena pernikahan bukanlah akhir dari kisah cinta, melainkan awal dari perjalanan cinta sesungguhnya. Bagaimana pasangan yang saling mencintai itu diuji dalam kesetiaan, dalam sulitnya membangun kepercayaan satu sama lain, juga dalam lelahnya membesarkan anak. Tidak selamanya adalah hari-hari bahagia, tidak selamanya penuh dengan momen-momen manis. Tapi di dalam sebuah pernikahan juga dibutuhkan pengorbanan yang banyak.

Pada awal cerita, diperlihatkan Choi Ban Do dan Ma Jin Joo telah gagal melewati ujian itu. Mereka masing-masing terlalu lelah dengan begitu banyak pengorbanan yang mereka berikan, tidak mampu lagi saling memahami, sehingga kesalahpahaman berujung pada hilangnya rasa percaya. Mereka merasa tidak bahagia lagi hidup bersama, hingga pada akhirnya memutuskan bercerai dengan gegabah. Kupikir ini adalah gambaran dari sekian banyak problematika perceriaian di kehidupan nyata. Boleh jadi mereka memilih berpisah bukan karena tidak ada lagi cinta di antara mereka, tapi karena masing-masing sudah terlalu lelah untuk saling memahami seperti Choi Ban Do dan Ma Jin Joo.

Beruntungnya Choi Ban Do dan Ma Jin Joo hidup dalam kisah drama Korea. Penulis naskah membuat mereka kembali ke masa lalu, 20 tahun sebelum perceraian mereka yang menyakitkan. Hari ketika mereka masih belia, muda dan penuh semangat dalam kehidupan kampus. Tubuh dan kehidupan mereka kembali muda, tapi ingatan mereka utuh. Pikiran mereka di usia 38 tahun seolah pindah ke masa 20 tahun sebelumnya. Kebayang nggak bagaimana jika anak muda pikirannya terlalu tua. Boleh jadi anak-anak muda yang kadang mikirnya ketuaan sebenarnya adalah diri mereka di masa depan yang kembali ke tubuh mereka masa lalu? *apaandeh

Choi Ban Do dan Ma Jin Joo masing-masing merasa itu adalah kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki nasib. Keduanya (meski nggak janjian) sepakat untuk tidak saling bertemu. Mereka menghindari hari kencan buta yang mana menjadi hari pertama mereka bertemu dan jatuh cinta di masa itu. Tapi yang namanya jodoh nggak ke mana sih, Ban Do dan Jin Joo ketemu juga. Bahkan ketika pemilihan acak untuk menentukan pasangan kencan masing-masing, Ban Do ujung-ujungnya ngambil sapu tangan Jin Joo (dengan kata lain dia akan berpasangan dengan pemilik benda yang diambilnya itu).

Mengingat apa yang terjadi pada mereka di masa mendatang, Ban Do dan Jin Joo sama-sama memilih tidak melanjutkan kencan. Kekecewaan dan penyesalan yang mereka bawa dari masa depan pun menjadi alasan kebencian mereka satu sama lain. Boro-boro jadian lagi, yang ada mereka bertengkar terus setiap kali ketemu. Ban Do dan Jin Joo pada akhirnya memutuskan untuk mengejar cinta pertama mereka.

Di masa kuliah, cinta pertama Ban Do adalah gadis cantik dari Jurusan Tari Balet, namanya Min Se Young. Teman-temannya Ban Do bilang, dia pengecut banget kalau berhadapan sama Se Young, bicara pasti terbata-bata, boro-boro nyatain cinta. Tapi begitu Ban Do yang dari masa depan datang, sikapnya langsung berubah. Dengan gentle-nya Ban Do kasih banyak perhatian buat Min Se Young. Bahkan gadis itu benar-benar jatuh hati sama dia.

Sementara Jin Joo, dia sebenarnya nggak punya cinta pertama. Tapi yang dia ingat, dulu ada seniornya yang pernah mengajak dia kencan (tapi sebenarnya ditolaknya). Di masa depan, Jin Joo pernah melihatnya di berita TV, seniornya yang berwajah ganteng itu belum juga menikah. Sampai-sampai Jin Joo berpikir itu karena seniornya nggak bisa move on darinya *asliguepengenngakak. Nah, otomatis begitu Jin Joo kembali ke masa mudanya, dia mencoba mendekati si senior, pasang senyum sok perhatian ke doi. Padahal itu adalah sehari setelah Jin Joo menolak mentah-mentah ajakan si senior. Dan nggak hanya menolak, Jin Joo juga mempermalukannya di depan banyak orang. Jin Joo bilang si seniornya itu “bau keringat”.

cewek mana yang tahan ditatap begini sama senior ganteng
(meskipun bau keringat wkwkwk)

Sebenernya sisi cerita tentang Jin Joo dan senior gantengnya ini cukup bikin gregetan. (Dan aku benar-benar telat menyadari kalau JANG KI YOUNG ITU GANTENG *tetibacapslockjebol xP). Karakter Jang Ki Young di sini mungkin terlalu sempurna, layaknya cowok-cowok idaman di drama Korea. Tapi keluguan dan kepolosannya terhadap perasaannya sendiri itu yang bikin gemez gimanaaa gitu. Mulanya kan dia ngajak Jin Joo kencan memang cuma spontanitas, bukan karena suka. Tapi beberapa kali dia ketemu Jin Joo (baik si cewek ini sadar atau nggak), selalu di saat Jin Joo lagi nangis-nangisnya. Lucunya, dia menyamakan Jin Joo dengan seekor kucing liar yang dia temukan di sekitaran kampus. Gimana ceritanya coba cowok yang perhatian ke cewek tapi dilampiaskan ke kucing? *ngakakdalamhatiaja. Ujung-ujungnya sih benih-benih cinta tumbuh di hati senior yang selalu berpenampilan ganteng dan maskulin dalam setiap kesempatan ini *eh.

Sedihnya, aku harus menyadarkan diri sendiri bahwa sedari awal alur drama ini membawa ceritanya pada bersatunya kembali tokoh utama wanita dengan tokoh utama pria. Tidak ada kesempatan bagi senior ganteng untuk mengubah nasib Jin Joo *eh.

Lagi pula Ban Do dan Jin Joo punya Seo Jin, putra kecil mereka yang imut dan menggemaskan. Kalau mereka memilih pasangan lain untuk mengubah nasib, Seo Jin tidak akan pernah lahir di masa depan. Itu yang selalu membuat Jin Joo menangis tiap malam, imbas dari rasa rindu dan penyesalannya kembali ke masa lalu. Dan tidak hanya Jin Joo, Ban Do juga merasakan kehilangan yang sama. Dia selalu mengingat masa-masa ketika memeluknya, bermain dengannya, tertawa bersamanya. Di sini diperlihatkan, bagaimanapun terlukanya hati karena pasangan, ada anak, buah cinta yang seolah menjadi obat. Salah satu alasan paling logis untuk mempertahankan rumah tangga. Karena suami maupun istri bisa menjadi mantan. Tapi bagi anak, tidak pernah ada mantan ayah atau mantan ibu. Keduanya selamanya akan jadi ayah dan ibu. Dan bagaimana mungkin sang anak sempurna kebahagiaannya jika cinta ayah dan ibunya terbelah?

Kembali ke masa lalu untuk Choi Ban Do dan Ma Jin Joo membuat mereka dapat kembali melihat dan memahami dari sisi yang berbeda. Mereka akhirnya menemukan alasan mengapa mereka jatuh cinta. Hingga kemudian masing-masing mampu menghargai perasaan itu.

Drama ini kurasa recommended untuk pasangan suami istri. Tidak hanya bagi mereka yang sedang dalam masalah, berniat untuk berpisah. Tapi juga bagi mereka yang sedang baik-baik saja, untuk terus mempertahankan apa yang telah mereka bangun, apa yang telah mereka miliki, agar hal terburuk yang akan disesali di kemudian hari tidak terjadi.

Semoga bermanfaat…

Kamis, 29 Maret 2018

Istana Untuk Si Pemaaf

Aku lagi rindu mengisi blog ini setelah sekian lama terabaikan. Sayangnya penyakit WB-ku ternyata separah itu hingga membuatku kesulitan bahkan hanya untuk menulis blog. Jadi kucoba mengisi waktu-waktu menyebalkan ini dengan memposting ulang sharing bermanfaat yang kudapatkan dari WhatsApp.

Ini sebuah kisah tentang orang pemaaf yang diceritakan oleh malaikat pada Rasulullah saw, terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih.


Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Di tengah perbincangan, tiba-tiba Rasulullah saw. tertawa ringan sampai-sampai terlihat gigi depannya.

Umar r.a. yang berada di di situ bertanya, "Demi engkau, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?"

Rasulullah saw. menjawab, "Aku diberitahu malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah. Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku.' Allah SWT berkata, 'Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikitpun?' Orang itu berkata, 'Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya.'"

Sampai di sini, mata Rasulullah saw. berkaca-kaca. Rasulullah saw. tidak mampu menahan tetesan air matanya. Beliau menangis. Lalu beliau Rasulullah berkata, Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosa nya."

Rasulullah SAW melanjutkan kisahnya. "Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi, 'Sekarang angkat kepalamu.' Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata, 'Ya Rabb, aku melihat di depanku ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan puri dan singgasananya yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan intan berlian. Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang shiddiq yang mana, ya Rabb? Untuk Syuhada yang mana, ya Rabb?' Allah berkata, 'Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya.' Orang itu berkata, 'Siapakah yang bakal mampu membayar harganya, ya Rabb?' Allah berkata, 'Engkau mampu membayar harganya.' Orang itu terheran-heran, sambil berkata, 'Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?' Allah berkata, ‘Caranya engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kauadukan kezalimannya kepada-Ku.' Orang itu berkata, 'Ya Rabb, kini aku memaafkannya.' Allah berkata, 'Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu.'"

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah saw. berkata, "Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian SALING BERDAMAI dan MEMAAFKAN, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin."

Kamis, 25 Januari 2018

Jalan-Jalan Ke Lombok [Part I] : Eksplorasi Gili Trawangan

Daripada Bali, aku lebih kepingin liburan ke Lombok. Entah kenapa ya, mungkin masalah selera sih. Meskipun belum pernah ke Bali, aku merasa kesan dari pulau itu adalah ramai, udah terlalu banyak jadi pilihan destinasi wisata, dan (denger-denger) pantainya udah lumayan tercemar. Sementara Lombok, agaknya lebih banyak spot-spot yang masih alam terbuka banget seperti Pantai Pink dan Gunung Rinjani.

Akhirnya kesempatan untuk ke sana pun tiba. Horeee!

Pulau Lombok dan 3 Gili yang tampak dari
ketinggian pesawat
Sebenarnya acara jalan-jalan ke Lombok ini disponsori oleh kantor. Agenda meeting tahunan yang biasanya diselenggarakan di luar kota. Tahun ini diadakan di Mataram, Lombok. Dengan 3 hari agenda meeting, sisa 2 hari acara senang-senang. Sayangnya karena waktu untuk travelling-nya terlalu sedikit, kami nggak banyak mengeksplorasi destinasi wisata di Lombok. Kami pun harus puas hanya dengan menikmati Gili Trawangan dan city tour Kota Mataram. Padahal udah ngebayangin guling-guling di merah mudahnya pasir Pantai Pink, atau liat sunrise di puncak Gunung Rinjani xD

Fyi, Lombok memiliki 3 gili yang selalu jadi pilihan destinasi favorit para wisatawan, terutama para bule nih. Nama gili sendiri artinya pantai. Yang terkenal dari ketiganya adalah Gili Trawangan. Pulaunya yang berukuran paling besar (lihat di foto samping). Ini adalah gili yang paling ramai dikunjungi wisatawan, kebanyakan oleh anak-anak muda terutama pada saat musim liburan. Karena pilihan hiburan yang tersedia bersifat sporty, seperti snorkeling, scuba diving, dll, ditambah live music yang berlangsung sepanjang malam. Sedangkan pulau yang terletak di tengah adalah Gili Meno. Ini cocok untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Bernuansa tenang dan romantis. Juga cocok untuk wisatawan yang ingin berelaksasi di tengah kesunyian. Sementara pulau ketiga bernama Gili Air. Ini lebih sesuai untuk wisatawan yang datang bersama keluarga. Karena di pulau ini paling banyak dihuni oleh penduduk. Fasilitasnya lengkap, mulai dari tempat penginapan, sarana hiburan, serta rumah ibadah. Transportasi juga memadai.

Jumat pagi, kami sarapan terakhir di hotel tempat kami menginap selama meeting di Mataram. Sekitar pukul 7, kami berangkat dengan bus menuju dermaga (apa ya namanya, letaknya di daerah Senggigi). Dari sana kami menaiki perahu cepat menyebrang ke Gili Trawangan. Dengan kondisi angin kencang dan ombak lumayan besar, perahu cepat kami berlompat-lompatan seperti kelinci. Seru. Kalau kalian pernah naik Kora-Kora di Dufan, nah sensasinya hampir persis. Tapi ini tanpa sabuk pengaman apapun, jadi rasanya lebih tegang lagi. Apalagi isi rombongan kami kebanyakan perempuan. Bisa bayangkan sendiri bagaimana riuhnya. Untung aja sih abang-abang pengemudi perahu cepat nggak jengkel sama kelakuan kami, kan ngeri juga kalau tiba-tiba kami diceburin ke tengah laut gara-gara kelewat histeris.

Perahu cepat bertenaga motor, transportasi utama yang dipakai
untuk menyeberang Mataram - Gili (Trawangan, Meno, Air).

Perjalanan menyebrang sekali tempuh memakan waktu sekitar 15-20 menit, tergantung ukuran perahu. Pada saat berangkat, rombonganku dapat bagian di perahu cepat yang ukurannya lebih kecil, muat menampung sekitar 10 orang. Perjalanan dengan perahu yang lebih kecil ini memakan waktu kurang lebih 20 menit. Sementara perahu yang lebih besar dengan kapasitas 20 orang bisa menempuh perjalanan 10 menit lebih cepat.

Goyangnya perahu nggak membuatku mabuk laut. Untunglah. Sudah beberapa kali naik perahu dengan goyangan kencang seperti ini nggak membuatku pusing. Justru waktu dulu naik kapal besar dalam perjalanan pulang kampung (sudah bertahun-tahun yang lalu, waktu masih bocah), aku nggak bisa ke mana-mana, maunya tiduran aja di dalam kapal karena mabuk laut parah. Entah faktor umur, atau memang kali ini aku lebih menikmati perjalanan ini, lebih fokus ke keindahan lautan Lombok, sehingga kepalaku nggak sempat dibuat pusing xD

Setibanya di Gili Trawangan, kami langsung memulai agenda eksplorasi dengan snorkeling! Kami digiring oleh pemandu wisata menaiki perahu kayu untuk menepi ke tepi pantai, memakai peralatan snorkeling seperti pelampung dan goggle beserta selang pernapasannya. Yang aku heran, kami tidak dilengkap dengan sepatu katak. Seingatku waktu snorkeling di Pulau Tidung dulu, kami memakai sepatu katak seperti penyelam profesional. Oke, lupakan saja. Karena inti hari ini adalah bersenang-senang!

Perahu kami membelah lautan menuju sedikit ke tengah. Sebenarnya aku agak bingung juga, lama kami berputar-putar di atas air, entah mencari spot bagus atau apa, sudah begitu ombaknya besar, sesekali perahu kami terhantam cukup keras hingga rasa-rasanya seperti mau terbalik. Cuaca di langit juga sedikit mendung, gerimis menerpa wajah bersama tampias air laut yang diterjang perahu kami. Kabar baiknya, dengan sinar matahari yang nggak begitu terik nggak membuat kulit para gadis jadi belang. Hahaha!

Begitu perahu berhenti, kami semua menceburkan diri ke air. Bukan menceburkan diri sih, lebih tepatnya turun pelan-pelan lewat tangga di sisi perahu *hahahaa... Maklum saja lah, bagi sebagian besar dari kami, snorkeling adalah pengalaman pertama. Agak takut juga nyebur ke air. Untukku, ini sudah pengalaman ke dua setelah trip ke Tidung beberapa tahun yang lalu. Tapi tetap aja nggak ada bedanya untuk orang yang nggak bisa berenang sepertiku. Lebih baik cari aman, turun pelan-pelan ke air via tangga xD

pasukan biru-kuning

pasang gaya tetap nggak lupa :p

Entah spot tempat kami snorkeling ini salah pilih, atau memang seluruh tempatnya seperti itu. Menurutku pribadi, masih lebih bagus pemandangan bawah lautnya Pulau Tidung. Di sini jarak dari permukaan air ke bawah terlalu jauh, karang tidak terlalu bisa dilihat dengan jelas. Dan untuk orang yang nggak bisa berenang sepertiku, meluncur ke bawah adalah persoalan sulit. Jadi intinya selama kurang lebih 30 menit itu kami cuma berendam aja di atas air laut, foto-foto, ketawa-ketawa (karena excited sama pengalamannya), habis itu naik lagi ke atas perahu setelah seluruh badan pegal dipaksa berenang. Hahaha... Makanya kubilang intinya bersenang-senang xP

Kembali ke daratan. Sambil menunggu para lelaki menunaikan Sholat Jumat, kami para perempuan berbilas, rapi-rapi, dan menikmati santap siang. Nggak bisa dibilang menikmati juga sih, makanannya jujur nggak enak. Kalau ini masalah selera, toh mungkin cuma aku dan segelintir orang yang bilang begitu. Tapi ini hampir semua orang. Kata orang, perut lapar membuat makanan apapun terasa enak. Mungkin kali ini pengecualian.

Tiba waktunya kami menuju ke hotel. Mbak pemandu wisata kami bilang, hotel ini termasuk salah satu hotel termahal di Gili Trawangan. (Lumayan juga liburanku kali ini, sudah dibayarin kantor, dikasih tempat nginap termahal pula xD). Dari tempat makan siang menuju hotel, kami menaiki cidomo. Itu adalah kendaraan sejenis delman, kereta kayu yang ditarik seekor kuda. Cidomo merupakan transportasi utama yang dipakai sehari-hari di pulau ini, karena di sini nggak diperkenankan memakai kendaraan bermotor demi udara bebas polusi. Kata mbak pemandu kami, cidomo itu terdiri dari akronim 3 benda, cikar, dokar, motor. Disebut motor karena rodanya menggunakan ban mobil. Sensasinya sama saja seperti naik delman. Satu cidomo bisa menampung 4 orang (ditambah 1 orang kusir yang duduk di depan).

Jalanan di pulau ini sayangnya belum dibuat mulus. Masih tanah berbatu-batu, kadang cerukan dalam yang terisi air genangan. Sudah kudanya lari macam orang kebelet pipis, jalanannya nggak rata. Kami harus pegangan kuat-kuat biar nggak kelempar jatuh. Setelah di atas cidomo, aku baru paham mengapa pemandu wisata meminta kami hanya membawa satu tas berisi pakaian seadanya. Kebayang repotnya jika kami membawa koper sebesar-besar itu ke atas cidomo.

Hotel yang dibilang tempat menginap termahal di Gili Trawangan itu ternyata memang tempatnya betulan bagus. Kamar-kamarnya dibuat seperti pondokan, tata letaknya diatur seperti komplek perumahan yang asri tertutup pepohonan. Suasananya sejuk dan tenang. Tapi begitu malam terasa agak seram juga sih. Lampu penerangan nggak dibuat maksimal. Hotel menyediakan sewa sepeda buat yang merasa terlalu jauh menempuh jarak dari kamar menginap ke pantai. Mereka juga punya kolam renang di halaman depan. Teman sekamarku, seperti belum puas basah-basahan di laut, tiba di hotel langsung nyebur ke kolam. Sementara aku dan yang lain lebih memilih beristirahat di kamar.

Kamar kami lumayan nyaman. Furniturnya serba kayu, membuatku merasa seperti menginap di sebuah pondok betulan. Kamar mandi dan toilet letaknya di belakang, dengan atap terbuka. Buat kami yang nggak terbiasa, mau mandi atau buang air jadi agak was-was. Untungnya udara di pulau ini nggak terlalu dingin, jadi kami nggak perlu menggigil mandi di "alam terbuka" xD

Sore harinya ceritanya mau menunggu matahari tenggelam. Setelah rapi-rapi, kami langsung menuju pantai yang letaknya persis di depan hotel. Menurut mbak pemandu kami, ikon yang paling dicari di Gili Trawangan adalah ayunan yang letaknya persis di bibir pantai. Tapi sore itu laut sedang pasang, ketinggian air bertambah beberapa sentimeter hingga merendam ayunan setinggi paha orang dewasa. Kalau saja aku tahu begitu, aku bakal datang dengan baju basah bekas snorkeling tadi siang. Supaya nggak pakai takut basah berfoto ria sambil main air di ayunan. Berhubung baju yang kupakai saat itu tinggal satu-satunya yang kering, terpaksa aku memendam hasrat untuk ikut senang-senang bersama yang lain.

(Tapi pagi esok harinya, air laut surut hingga bermeter-meter ke belakang. Permukaan air laut yang merendam bibir pantai jadi dangkal. Tampak sekali hamparan kecokelatan menyembul di permukaan. Pagi itu akhirnya aku punya kesempatan berfoto cantik di atas ayunan ikonik ini. Tapi maaf saja, fotonya khusus konsumsi probadi :P)

Ayunan Ombak Sunset, tempat ikonik yang paling
dicari dan jadi tempat favorit berfoto para wisatawan

cuma bisa mengabadikan keceriaan teman-teman dari pinggir
pasir :")

Dan satu lagi yang kusayangkan dari sore hari itu adalah kami nggak bisa melihat indahnya matahari terbenam karena tertutup awan. Memang seharian langitnya kurang cerah, lebih sering mendung dan gerimis halus.

Padahal udah ngebayangin bakal dapat foto sunset yang keren.
Jadinya cuma begini :(

Makan malam kami cukup romantis. Hotel "memindahkan" restoran ke tepi pantai. Meja-meja bundar diatur sedemikian rupa di atas hamparan pasir, dipercantik dengan lampu-lampu gantung yang dipasang dengan galah bambu. Debur ombak dan semilir angin yang bertiup-tiup menambah meriah suasana. Dan tidak lupa kami ditemani live performance dari band lokal (suara vokalisnya renyah bikin nagih xP).

Setelah beberapa jam menetap di Gili Trawangan, aku merasa deja vu dengan Pulau Tidung. Suasananya mirip-mirip. Pulau kecil. Pantai. Pasir Putih. Laut jernih. Pepohonan nyiur. Lalu-lalang sepeda. Bedanya di Tidung sudah jauh lebih ramai bangunan-bangunan penginapannya (dan rumah penduduk juga). Dan maaf saja, lautnya sudah cukup tercemar dengan banyaknya sampah yang jika dilihat dari kejauhan tampak seperti pulau.

Di Gili Trawangan, tentu saja kebersihan lautnya masih terjaga. Juga di sini masih cenderung sepi, masih banyak lahan kosong yang hanya berisi hamparan pohon nyiur. Tapi tempat hiburan di sini cukup menjamur, terutama di pinggiran pantai. Kelab-kelab yang menyuguhkan live music atau DJ performance, dan yang pasti menyediakan minuman beralkohol. Makanya aku agak ngeri juga jalan malam-malam. Nggak seperti beberapa teman yang memilih keluar cari hiburan ala bule lantas pulang hampir pagi. Lebih baik aku bobo manis di hotel setelah perut kenyang. Karena besok harinya kami masih punya agenda city tour. Kembali ke Kota Mataram!


bersambung...


p.s. foto-foto dalam postingan ini adalah dokumentasi pribadi, mohon untuk tidak mengambil sembarangan tanpa izin dari penulis/pemilik blog

Sabtu, 18 November 2017

Domba Berbulu Srigala: Si Lemah Yang Bertingkah Paling Tangguh

Disponsori oleh keputusasaanku terhadap proyek di ajang Bulan Nulis Novel Storial, aku memutuskan untuk refreshing sedikit dengan membaca buku baru.

Buku ini sudah lama masuk ke dalam wishlist-ku. Tapi berhubung bulan-bulan kemarin aku fokus dengan buku-buku Tere Liye yang nyaris punah di peredaran, akhirnya buku ini terbelikan juga bulan ini.

Judulnya Domba Berbulu Srigala. Membaca itu saja pasti langsung terlintas di benak siapapun bahwa kisah ini bakal menarik. Jika biasanya orang-orang tertentu cenderung berpura-pura baik demi menyembunyikan sifat jahatnya, srigala berbulu domba, kisah dalam buku ini justru sebaliknya. Jadi, inilah poin menarik ketika aku membaca judulnya. Pun ketika membaca blurb di belakang sampul. Ketebak, memang. Tema sekolahan, bullying, persaingan, dan lain-lain yang sudah umum terjadi di sekolah. Tapi aku masih penasaran bakal seperti apa ceritanya berjalan.

Kisahnya tentang Robin, seorang siswi SMA yang punya reputasi buruk di sekolah. Aslinya dia hanya gadis penakut yang berlindung di balik nama "besar" sepasang sepupu kembarnya. Demi menyembunyikan kelemahan itu, dia bersikap dingin dan menjauhi semua orang, membiarkan gosip-gosip miring tentangnya menempel pada dirinya.

Jujur, aku sedikit bingung dengan gaya tulisan #Rree si penulis. Entah dia terinspirasi gaya menulis dari mana, ini adalah pertama kalinya aku membaca konsep penulisan seperti buku ini. Sudut pandang dilihat dari orang ke-3 dan orang pertama sekaligus. Dalam penceritaan, penulis berlaku sebagai orang ke-3. Tapi di dalam cerita pun #Rree berubah menjadi Robin sebagai orang pertama, tokoh utama yang menceritakan kisahnya. Dan antara si orang ke-3 dan orang pertama ini hanya dibedakan dari format tulisan. Orang ke-3 ditulis dengan cara biasa. Sementara ketika Robin menjadi pencerita, ada tanda kutip seperti kau sedang membaca dialog, kalimatnya ditulis tebal.

Selain itu, gaya diksi #Rree bagiku juga agak membingungkan. Dia jarang sekali memberi keterangan nama setelah dialog. Itu membuatku agak kesulitan mengetahui dialog itu milik siapa, tokoh mana yang barusan bicara. Yap, sepertinya #Rree jarang menyebut subjek. Struktur kalimatnya langsung diawali dengan predikat dan objek. Sebenarnya gaya seperti ini tidak masalah sama sekali jika pada saat itu dia hanya melibatkan satu subjek. Tapi jika dalam pertemuan, melibatkan sekian orang, pasti akan membingungkan jika tidak ada nama yang disebut.

Well, terlepas dari gaya penulisan yang bagiku sangat baru, kisah dalam novel ini sebenarnya luar biasa. Kita akan menemukan banyak realita kehidupan anak SMA (dalam sisi negatif), terutama tentang bully.

Robin seakan menjadi refleksi atas pihak yang lemah, terpaksa bertahan dengan cara apapun demi terhindar dari dijadikan mangsa oleh para penindas. Terkadang seseorang akan melakukan apapun ketika dia terdesak. Itu yang dinamakan insting bertahan hidup. Robin tidak akan menjadi sebuas srigala jika bukan untuk melindungi dirinya sendiri dari kehidupan sekolahnya yang keras.

Kisah dalam buku ini tidak hanya memberitahu kita bagaimana sebenarnya kehidupan anak-anak SMA. Tidak sekadar memaksa kita percaya bahwa hal-hal sekejam itu bisa terjadi. Tapi kisah ini juga membimbing kita untuk memahami banyak hal sederhana. Seperti pertemanan, kepercayaan, dan kepekaan terhadap rasa keadilan.

Oh ya, yang paling membuatku terkesan dengan novel ini sebenarnya tentang pertemanan. Ada bagian (bab dan halamannya aku tidak ingat) yang membuat mataku berkaca-kaca karena tersentuh. Itu adalah ketika Robin menyadari arti kepedulian seseorang padanya. Aku senang karena pada akhirnya dia menemukan seseorang yang bisa dia percayai. Seorang teman sesungguhnya.

Dan ketika sampai di halaman terakhir, aku cukup terkejut menemukan kata "bersambung". Aku sudah mereka-reka bagian akhirnya akan bagus jika seperti ini, atau seperti itu. Ternyata masih berlanjut, entah berkembang seperti apa.

Tapi aku masih tertarik untuk membaca sekuelnya. :)

Jumat, 27 Oktober 2017

Dwilogi "NEGERI" Karya TERE LIYE: Parodi Cerdas Untuk Bobroknya Sebuah Negeri


Sedikit berat ulasan novel Tere Liye yang bakal kubuat kali ini. Tapi sekali lagi kugaris-bawahi, aku hanya hobi menulis, bukan seorang penulis resensi profesional, jadi mohon dimaklumi jika penilaianku kurang berbobot atau terkesan seena'e dhewe alias suka-suka-saya xD

Sebagai seorang warna negara, pernahkah kalian merasa muak dengan sistem hukum yang berjalan di negeri ini? Ketika hukum meruncing ke bawah dan tumpul ke atas? Korupsi merajalela? Suap di mana-mana? Penjahat besar dibiarkan kabur, sementara maling ayam dihajar massa sampai mati?

Kalau pertanyaan ini ditujukan padaku, tentu akan kujawab YA.

Kupikir, seperti itu juga yang dipikirkan oleh Tere Liye. Karena dari novel dwiloginya Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk, negara seperti itulah yang tergambar di dalam kisahnya.

Karakter yang menjadi sentral cerita adalah Thomas. Seorang konsultan keuangan lulusan 2 sekolah bisnis luar negeri, punya reputasi baik, dan dibayar paling mahal setiap kali mengisi acara seminar keuangan. Seorang laki-laki muda yang cerdas, berkelas, dan super sibuk. Dia punya selera humor yang baik. Yang paling menarik darinya adalah kemampuannya mempengaruhi orang lain.

Oh ya, Thomas juga punya hobi yang tidak banyak dilakukan orang. Bertarung. Ya, berkelahi seperti petarung-petarung hebat dalam arena adu fisik yang suka kita lihat di TV. Ceritanya ada sebuah klub petarung rahasia yang biasa didatangi oleh para eksekutif muda di Jakarta. Mereka berhadapan satu lawan satu, mengadu siapa yang paling kuat. Tapi hanya sekadar hobi. Baku hantam di arena, tapi di luar itu mereka semua justru menjadi sahabat baik satu sama lain.

Sebagai seorang konsultan keuangan ternama, Thomas menyimpan rahasia besar. Bahwa dia adalah keponakan satu-satunya Liem Soerja, pengusaha besar pemilik Bank Semesta yang nyaris kolaps karena banyak melakukan pelanggaran hukum. Dua puluh tahun sebelum cerita, Thomas yang memiliki nama kecil Tommi, mengalami tragedi mengerikan. Kedua orangtuanya dibakar massa yang mengamuk karena merasa dirugikan oleh perusahaan investasi yang didirikan oleh Om Liem dan papanya. Sejak kejadian itu, Thomas membenci sang paman dan memilih hidup terpisah seperti orang asing dari keluarganya.

Pada buku pertama, Negeri Para Bedebah, konflik terpusat pada masalah kolapsnya Bank Semesta pimpinan Om Liem. Thomas mencari cara agar bisa menyelamatkan bank tersebut sebelum benar-benar dinyatakan bangkrut oleh pemerintah. Bukan hanya karena para nasabah terancam kehilangan uang mereka jika Bank Semesta dinyatakan bangkrut. Ada pihak-pihak yang diuntungkan. Bukan juga tentang persaingan bisnis. Tapi Thomas mencium adanya konspirasi besar yang melibatkan orang-orang penting di pemerintahan. Karena itu, Thomas hanya punya 48 jam untuk meluruskan benang kusut.

Berhasilkah Thomas? Silakan baca hingga halaman terakhir :P

Petualangan kejar-kejaran Thomas ternyata berlanjut ke buku ke dua, Negeri Di Ujung Tanduk. Jika sebelumnya lebih banyak membahas masalah ekonomi dan keuangan, di sini Thomas melebarkan sayap ke dunia politik. Diceritakan Thomas membuka cabang bisnis baru perusahaan konsultannya sebagai penasihat politik.

Thomas bekerja untuk seorang kandidat presiden yang dia percaya memiliki visi dan misi sesuai dengan cara pandangnya selama ini. Orang itu disebut dengan nama JD. Thomas percaya dia seorang yang bersih, cocok menjadi pemimpin tertinggi untuk membenahi kebobrokan hukum di negerinya. Karena itu Thomas tidak ragu berdiri di belakangnya untuk mendukungnya sampai akhir.

Tapi tiba-tiba JD ditangkap polisi terkait tuduhan korupsi mega proyek ketika dulu menjabat sebagai gubernur ibukota. Tidak ada angin, tidak hujan. Penangkapan itu terlalu ganjil karena dilakukan satu hari menjelang pengumuman resmi terpilihnya JD sebagai satu-satunya kandidat capres dari partainya. Lagi-lagi Thomas mencium adanya konspirasi besar di balik penangkapan JD atas tuduhan tersebut. Kejahatan mafia hukum yang ternyata erat kaitannya dengan masalah setahun yang lalu, kolapsnya Bank Semesta. Otak penggeraknya adalah orang yang sama. Kali ini, sekali lagi Thomas hanya punya waktu 48 jam.

Kenapa aku milih baca dwilogi ini dulu padahal novel BINTANG yang lagi aku baca pun belum beres?

Jawabannya simpel. Aku penasaran berat sama Thomas setelah doi muncul jadi kameo di novel PERGI (sekuel PULANG). Ha ha ha...

Yes, seperti dugaanku, Thomas memang keren. Jenius, jago bela diri, dan menyebalkan (yang terakhir syarat cowok keren versi gue *bhahaha). Cuma satu yang meleset. Sekilas kameonya di PERGI, Thomas sudah punya kartu nama yang dirancang khusus mengeluarkan cairan kimia yang bisa melelehkan besi. Ini pasti dibuat setelah dia 2 kali ditangkap dan dikurung di sel dalam dwilogi asalnya. Kupikir Thomas memang punya semacam keahlian khusus melarikan diri. Nyatanya tidak sama sekali. Thomas hanya pengusaha kaya yang pakai cara klasik demi meloloskan diri dari penjara. Menyuap petugas penjara! *ngakaksambiltepokjidat


Well, mari kita mulai membahas novel ini secara serius (nggak juga sih).

Seperti judul yang kusematkan di atas. Kukatakan ini parodi. Karena kisah di dalam dwilogi ini tak ubahnya refleksi dari apa yang terjadi di negara kita. Sistem hukum yang menyedihkan, di mana keadilan meruncing ke bawah tumpul ke atas. Penjahat-penjahat kecil diterabas, maling ayam, maling sendal, pencuri kelapa--bahkan sebelum diproses secara hukum saja mereka keburu tewas dihajar massa. Sementara mereka yang punya kuasa, punya uang, punya jabatan, mau melanggar sekadar aturan lalu lintas, sampai tersangkut kasus korupsi besar-besaran, tenang saja mereka melenggang. Kalaupun tertangkap, toh ujung-ujungnya dipenjara hitungan 1-2 tahun, itu pun penjaranya senyaman rumah sendiri, fasilitas lengkap, bebas keluar-masuk.

Tere Liye meramu potret menyedihkan itu menjadi ide cerita yang digarap dengan cerdas. Kisahnya dibuat tampak seperti nyata. Rasanya nggak perlu lagi kita bahas gaya tulisan Tere Liye yang khas dengan alur mengalir, atau caranya menciptakan karakter tokoh-tokohnya yang begitu kuat. Mengangkat realita sebagai tema menjadi bumbu menarik untuk menyempurnakan cerita hingga terasa seperti benar-benar terjadi.

Di dalam novel dwilogi ini, para penegak hukum dianggap bedebah. Karena mereka sama saja hinanya seperti preman-preman pasar yang rasa keadilannya bisa dibeli dengan uang, ditawar dengan materi. Hukum dicederai, dihinakan, diinjak-injak. Jika sudah begitu, jika makin dibiarkan, tidak ada lagi yang peduli dengan rusaknya tatanan hukum yang seperti itu, maka negeri itu benar-benar di ujung tanduk, kehancurannya hanya menunggu waktu.

Bukankah gambaran itu mirip dengan apa yang terjadi di negeri ini?

Dwilogi ini (seperti novel-novel Tere Liye yang lain) bukan sekadar bacaan hiburan. Tapi juga mencerdaskan pembacanya. Ilmu ekonomi dan politik bertebaran di dua novel ini. Kamu seolah-olah sedang membaca buku ekonomi dan politik yang dikemas menjadi kisah hidup seorang tokoh fiktif. Menarik, bukan? Tapi tentu saja penjelasan-penjelasan tentang banyak teori ekonomi dan politik itu tidak sejelimet ketika kamu membaca buku-buku teks. Tere Liye selalu punya resep ajaib supaya kalimat penjelasan serumit apapun mudah dicerna oleh pembacanya.

Jumat, 06 Oktober 2017

TERE LIYE Menjawab

Sudah lumrah bagi para penggemar sebuah karya ingin mengenal lebih dekat si pembuat karya itu. Tentu rasa penasaran datang, ingin tahu seperti apa si pencipta, bagaimana orangnya, apakah dia seperti refleksi dari karya-karya yang kita gemari. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu ingin sekali dicari tahu penggemar.

Seperti halnya aku, seorang penggemar novel-novel inspiratif karya Tere Liye. Tentu jelas aku penasaran Bang TL itu orangnya bagaimana. Apalagi di setiap novelnya, tidak pernah ada biografi singkat tentang beliau yang umumnya dicantumkan di halaman belakang novel-novel. Jelas saja itu membuatku makin penasaran.

Beberapa waktu yang lalu, saat aku sedang mencari-cari bahan untuk postingan tentang Tere Liye, ketemulah satu blog yang membahas tentang si Abang ini. Sumbernya dari fanpage facebook beliau, sebenarnya dulu pernah bikin semacam Q & A (sayangnya aku melewatkan itu--malah baru tahu Bang TL pernah bikin Q & A di facebook *dan aku sedih setengah mati karena nggak bisa ikutan nanya*). Lalu pemilik blog itu menuliskan ulang di blognya.

Ini dia sederet pertanyaan untuk Tere Liye yang (sebenarnya) mewakili pertanyaan-pertanyaanku untuk beliau selama ini. Mungkin kamu juga penggemar berat Bang TL sepertiku, jadi ini kuposting untukmu juga. Enjoy!

(WARNING! Di pertanyaan seputar novel mengandung spoiler, lebih baik di skip kalau tidak mau mendapat bocoran penting novel-novel Tere Liye yang belum kamu baca)


==  SEPUTAR NOVEL  ==

Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin

Q: Apakah novel Daun Yang Jatuh adalah kisah hidup abang?
A: Bukan. Itu fiksi.

Q: Yang dibisikkin danar ke tania waktu di pohon linden (daun yang jatuh tak pernah membenci angin) apa bang?
A: Rahasia... sst...

Q: Mas, apa jawaban Danar ketika Tania bertanya apakah Danar mencintainya atau tidak?
A: Saya tidak tahu. itu hanya danar dan Tuhan yang tahu. haha

Q: kenapa novel Daun yg Jatuh tak membenci angin gantung bgt?
A: karena memang disengaja biar gantung. kesimpulan diserahkan ke pembaca

Q: Bang tere knp ga bikin sequel yg daun yg jtuh tdk prnh mmbenci angin.
A: ada sekuelnya. tp tdk terbit.

Q: Assalamu'alaikum bang, mau nanya, cinta dipohon linden, dulu katanya mau diterbitin thn 2016.. bener kah bang? kita menunggu kabar lanjutan daun yg jatuh
A: kata siapa?


Renbulan Tenggelam di Wajahmu

Q: Bang, Rembulan Tenggelam di Wajahmu ada lanjutannya nggak ? Penasaran dengan kelanjutan kisah Rei. Apa yang dia lakukan selanjutnya?
A: Sudah tamat, nggak ada lanjutannya.


Sunset Bersama Rosie

Q: Om, di Sunset Bersama Rosie kok nggak ada jawaban dari "kenapa penyu jalannya lambat?" emangnya kenapa?
A: Biar pembaca penasaran. Kenapa Rosie yang harus dipilih? Unreal pilihannya Bukankah yang mencintai tulus akan lebih bahagia? Rosie itu mencintai Tegar dengan tulus

Q: Akhir cerita sekar di novel sunset bersama rosie kalau diteruskan kira2 gimana bang tere? Biar saya bisa belajar dg pengalaman sekar melepas sesuatu :')
A: Dia akan mendapatkan jodoh yg lebih baik, insya Allah.


TETRALOGI BUMI

Q: Novel Bumi terinspirasi dari apa?
A: Dari survei di page ini.

Q: Dari mana dan ke mana Tanpa Mahkota?
A: Masih dikurung, entar dikeluarin di Matahari atau Bintang

Q: Apakah Bulan terinspirasi dari Hunger Games?
A: Baca bukunya saja belum

Q: Bang kenapa di novel Bumi kebanyakan menceritakan klan Bulan? Lalu di novel Bulan kebanyakan menceritakan klan Matahari? Apakan di novel Matahari akan banyak menceritakan klan Bintang?
A: Ya, kamu sudah bisa menebaknya

Q: Bang untuk novel Matahari, latar nya d bintang atau balik lagi k Bumi??
A: Bintang. Latar Bumi itu di novel terakhir Bintang 

Q: Bang, nemu inspirasi dari mana ya waktu ngasih nama Ilo, Vey, Ou, dan Ily?
A: dari i love you


Negeri di Ujung Tanduk

Q: Novel negeri di ujung tanduk Ada lanjutan nya g bang?
A: nggak ada. sudah habis petualangan Thomas.

Q: "Negeri di ujung tanduk" tokoh calon presiden itu.. Jokowi kah inspirasinya?
A: hehe, itu fiksi.

Q: Bang kenapa Thomas digambarkan sempurna banget colonthree emoticon
A: Thomas itu licik, kok sempurna?

Q: bang thomas akhirnya bareng sama maria atau julia?
 A: ya ampun.. itu novel aksi, bukan novel romans


RINDU

Q: Adakah sambungan novel Rindu?
A: Itu sudah 500 halaman :(

Q: Kisah Ambo Uleng - Rindu itu asli?
A: Fiksi

Q: Kenapa di novel Rindu ada tokoh adik-kakak yg namanya persis di film animasi Walt Disney,.?
A: Disengaja

Q: Bang kan di novel rindu ada anna sama elsa, kok namanya bisa sama kaya yang d frozen???
A: buat lucu2an

Q: di rindu itu mayoritas tokohnya dari film nama mereka. kok mbah putri dalam novel Rindu meninggal sblum sampe mekkah? cry emoticon 
A: karena memang begitulah ceritanya. 

Q: Bang, berniat nulis novel yg lebih tebal dari novel rindu tidak?
A: Hehe harganya nanti nggak kuat


Pertanyaan Variatif Tentang Novel

Q: Kenapa cover #AboutLove terlalu tebal? Padahal kalau pebikmat pasti punya perawatan buku. 
A: Dibuat hardcover memang, Biar keren tampilannya

Q: Bang knp novel about love quote nya sedikit ? Knp gk smpe 500 quote gtu bang.
A: ya ampun, harganya bisa 300 ribu

Q: Bang, kisah Sie-Sie itu asli?
A: Fiksi

Q: The Gogons kok nggak ada di daftar TBdelisa?
A: Sudah habis stoknya

Q: Kenapa the gogon's gk cetak ulang bang? Terus 5 novel sequel lanjutannya apa kabar? Gk coba d terbitin lg aja bang?
A: karena nggak laku
 
Q: Kenapa novel yang udah pernah aku baca tidak pernah menampilkan tokoh utama berkerudung? 
A: Hafalan Shalat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, Serial Anak Mamak, dll 

Q: Apa bang Tere berencana untuk menulis kisah seperti serial anak mamak lagi?
A: insya Allah. saya sedang "berpetualang" dulu ke genre2 lain, doakan saja, besoklusa sy kembali nulis novel anak2

Q: Oom saya mau nanya, apa yang dilakukan mamak nung sampai wak yati bilang karna mamak nung terang benderang seisi kampung? karena saya udah baca semua serial anak2 mamak tapi masih belum bisa nebak..atau emg saya gak teliti ya? balas ya om
A: itu seharusnya masuk di amelia, tp akhirnya tdk masuk. biarlah tetap jd misteri.

Q: Novel'y bang tere yang sad ending itu apa aja yang bang,,
A: eh, semua novel saya itu happy ending. tergantung sudut pandang pembaca saja.

Q: Apakah ada rencana novelnya akan difilkan bang?
A: Doakan saja ada produser yang serius dengan budgetnya


==  DUNIA KEPENULISAN  ==

Q: Berapa lama rata-rata riset yang dilakukan untuk satu novel?
A: Variatif. Ada yang berbulan2, ada yang bertahun2

Q: bang tere liye kalau ngambil latar belakang daerah kenapa banyak yg di sumatera? grin emoticon 
A: karena saya orang sumatera, itu paling gampang.

Q: Dari semua novel, mana yang paling berkesan?
A: Semuanya punya khas masing-masing saat ditulis

Q: Buku apa aja yg berdasarkan kisah nyata?
A: semua novel itu fiksi... arghh... bnyk banget yg nanya soal ini.

Q: bang tere sering lebih menggunakan kata langit, contoh: langit mendengarkan doanya, kenapa tidak menggunakan kata Tuhan saja?
A: itu gaya bahasa. hanya masalah preferensi saja.

Q: Kenapa novel abang banyak berisi tentang sisi lain keluarga dan penerimaan dalam hidup?
A: Karena itu penting sekali

Q: Semua novel idenya dari mana?
A: Dari mana saja

Q: Saya suka banget menulis, tpi sya blom yakin tuk buat novel/buku,,bgmn cara agar sya yakin novel sya akan manfaat bgi masyarakat?terima kasih
A: gimana mau bermanfaat kalau kami yakin juga tidak. diperbaiki niat dan motivasinya.

Q: Motivasi terbesar menulis dan berkarya melalui tulisan?
A: ini panjang sekali penjelasannya. simpelnya: menulis itu cukup karena suka.

Q: Assalamualaikum pak darwis, sy mau nanya. Apakah pembuatan novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah yg latarnya di Pontianak udh disurvei trlbih dulu? Soalnya mirip sekali dgn lokasi2 yg ada di ptk .-. Atau seperti novel Delisa, yg hanya dipelajari seluk beluk daerah serta asalnya aja?
A: iya, itu harus diriset

Q: Om.. kalo jadi penulis emangnya harus sering traveling ya? Biar tahu banyak tentang tempat.
A: yg mesti, penulis itu banyak baca

Q: Bang tere .bagaimana memotivasi diri dalam berkarya & ber imajinasi membuat novel
A: perbaiki niat dan motivasi

Q: Sebagai seorang lelaki, darimana bang tere mendapatkan ide untuk novel2nya?
A: sama saja dengan seorang perempuan. dr mana saja idenya.

A: Bang tere mau tanya, menurut pendapat anda mana yg lebih baik, sudah menentukan ending di awal ketika akan menulis cerita, atau ending itu sendiri bisa berubah sesuai dengan kondisi ketika menulis cerita? kalo abang bagaimana? apakah di awal sudah disiapkan endingnya atau nunggu di akhirnya ya? terimakasih kalo berkenan dibalas ^^
A: bisa dari kapan saja. yang penting ditulis

Q: Semangat apa yg paling membara ktika muncul ide2 untuk membuat novel baru?
A: Membara? menulis itu konsistensi jangka panjang, tidak bisa dengan membara, kemudian padam. jadi lebih baik terus menulis, bahkan saat ide tidak ada.

Q: Bagaimana antum dapat menulis dengan mudah hingga si pembaca ikut larut didalamnya? Mohon penjelasan dari antum bang karena ana iri dgn gaya tulis antum.
A: Latihan. hanya itu kuncinya.

Q: gimana agar bisa masuk ke penerbit bang, kalau naskahnya sdh kelar?
A: kamu cari website penerbitnya, baca petunjuk kirim naskah baru. kirim saja. tinggal tunggu.

Q: Bang, bagaimana supaya mudah nembus ke penerbit, naskah saya sudah rampung? butuh biaya banyak gak?
A: nerbitin buku itu gratis. mana ada ngeluarin duit. banyak2 latihan menulis, nanti kamu tahu sendiri tips terbaiknya.


==  HAL PRIBADI  ==

Q: Buku apa yg biasanya om baca??
A: alfecbuk waltwiteran

Q: Kenapa di novel bang Tere tdk pernh dicantumkan biodata pengarang? grin emoticon
A: karena penulis itu lebih baik tulisannya yang terkenal

Q: Bang suka banget gw ama Novel Negeri di Ujung Tanduk kacau.... Maju jadi wakil rakyat bang.. Tumpahkan semua keluh kesah serta gagasanmu bang disana
A: Penulis itu tidak ikut kelompok manapun kecuali prinsip2. sekali dia masuk politik, maka selesai sudah kepenulisannya, berubah jadi politisi. kamu mau yg mana? tere liye penulis atau politisi?

Q: Kalo ditanya profesinya penulis atau akuntan, bingung nggak?
A: Kan sudah clear. Profesi akuntan, menulis itu hobi

Q: Apakah pernah dulu tulisan bang tere ditolak oleh penerbit?
A: sering. sering dan sering.

Q: knp bang tere gk terlibat dlm pembuatan film2 dr adaptasi novelny... biar film ny lebih berkualitas... gk nanggung
A: karena saya penulis.

Q: Bang, apakah menjadi seorang penulis itu cita-cita bang Tere Liye di waktu kecil??
A: saya waktu kecil cita2nya jadi penyanyi

Q: Berapa persen abang suka film India?
A: 100%

Q: kalau lagi suntuk menulis novel, supaya bisa fresh biasanya ngapain? atau ada motivasi pribadi gitu?
A: nonton film. sampai ribuan.

Q: Bang, gimana caraanya menanamkaan pemahaman kpda adik yg nakal.? Seperti eliana yg daapat memahamkan adik"nya.??
A: kasih buku2 yang bagus.

Q: apakah bang Tere Liye ikhlas jika saya membaca Novel abang yang versi E-book? yang mungkin illegal karena adahak cipta
A: saya mah ihklas. toh beberapa naskahnya sudah dibagikan gratis sebelum terbit. tapi entah dengan penerbit, dll 

Q: Saya suka sekali semua novel abang, tapi maaf, setelah bertemu langsung, ternyata abang tidak seramah tulisannya.
A: Kamu tepat sekali, karena saya jelas tidak akan suka berfoto-foto bersama pembaca, pun tidak suka menyenangkan pembaca dengan menuruti mau mereka saat bertemu, ada jarak yang clear antara penulis dan pembaca

Q: Bang, kalo novel2nya aku jadiin kajian dlm tesisku trus membutuhkan wawancra dgn pengarangx, Maukah abang sy wawancarai? ^^
A: Nggak mau.

Q: Bang kapan buat novel biografi tentang abang? pasti inspiratif banget
A: malah nggak seru bikinnya.

Q: Bang, reply dong
A: Hai.... ^^


Asli yang terakhir koplak pisan *ketawasambilnangi


sumber: risandauf

Rabu, 04 Oktober 2017

Karakter Kesayangan Dari Novel Tere Liye

Kemarin Bang Tere Liye memposting di halaman Facebook-nya. Karakter laki-laki mana yang jadi favorit para pembaca setianya. Pilihannya:

1. Thomas
2. Bujang
3. Ali
4. Zaman Zulkarnaen
5. Hakan Karim
6. Ambo Uleng
7. Tegar
8. Borno
9. Danar
10. Ray
11. Burlian
12. Pukat
13. Jim
14. Soke Bahtera

Dari semuanya ada beberapa yang belum kukenal (karena novelnya belum kubaca), dan beberapa lagi tidak terlalu bisa kuingat (karena sudah sangat lama sejak aku membaca novelnya). Perlu kuakui, mau karakternya jahat sekalipun, Tere Liye mampu membuat mereka unik dan punya nilai, sehingga pembacanya dapat menarik hikmah pelajaran penting dari setiap karakter di novelnya.

Aku pun punya penilaian sendiri untuk masing-masing karakter dalam novel Bang TL.

1. Thomas, dari Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk
Untuk cowok satu ini, aku belum membaca 2 novelnya jadi belum kenal seperti apa hebatnya dia. Tapi dalam novel PERGI (sekuel PULANG), Thomas sempat muncul sebagai cameo, ceritanya jadi tamu undangan Keluarga Yamaguchi--salah satu keluarga penguasa shadow economy--dalam acara pernikahan putri bungsu mereka. Pertemuan Thomas dengan Bujang--karakter utama di novel PULANG dan PERGI--digambarkan dengan keren. Seperti apa kerennya? Lebih baik kamu baca sendiri saja dulu novel PERGI, biar tahu sendiri. Hihiii.

Well, setidaknya dari cameo itu, aku melihat Thomas sebagai karakter yang yah hampir mirip dengan Bujang. Dia ahli membuka segala jenis kunci (kayaknya di novel asalnya, Thomas ini sudah beberapa kali ditangkap dan dipenjara lantas kabur dengan kemampuan mirip sulapnya). Dia juga punya kartu nama ajaib seperti milik Bujang. Kalau Bujang kartu namanya dilapisi baja tipis dan tajam, bisa dijadikan senjata shuriken. Nah, kartu nama Thomas kalau disobek akan mengeluarkan cairan yang bisa melelehkan apapun. Jadi kayaknya kartu nama itu jadi senjata andalannya buat melarikan diri.

Karakternya sendiri belum bisa kutebak dengan jelas. Tapi kelihatannya dia orang yang ramah, menyenangkan, dan easy going, apa-apa dibawa santai. Dan kelihatannya sih dia nggak kalah ganteng dari Bujang xP

2. Bujang, dari PULANG dan PERGI
Ini dia jagoan kita. Pria ganteng tapi masih jomblo di umurnya yang udah 35 tahun. (Nggak dijelaskan secara gamblang sih sama Bang TL Bujang ini gimana paras wajahnya. Tapi dalam dialog tokoh-tokoh lain, mengindikasikan bahwa Bujang itu ganteng. *Sok tahu ya gue?*). Nama aslinya Agam, tapi hanya orang-orang tertentu saja yang tahu. Dia biasa disapa Bujang atau lebih terkenal dengan nama alias Si Babi Hutan. Kenapa dia dipanggil Si Babi Hutan? Nah, yang ini juga lebih baik kamu baca sendiri novelnya. Ekekekee~

Dia seorang pemberani, cerdas, dan jago berkelahi. Reputasinya sebagai tukang pukul nomor satu Keluarga Tong--salah satu keluarga penguasa shadow economy--menjadikan orang-orang takut dan segan padanya. Meskipun dia anggota keluarga mafia, tukang berkelahi, bahkan terkadang membunuh musuh-musuhnya, uniknya dia tidak pernah minum alkohol dan makan daging babi, menyentuhnya saja tidak pernah. Itu karena pesan ibunya sebelum dia dibawa dari kampung pedalaman Sumatera untuk bergabung menjadi anggota Keluarga Tong. Ibunya bilang jika dia tidak bisa menghindari cara hidup kotor, setidaknya dia harus menjaga perutnya dari makanan dan minuman haram. Dan pesan itu dijaga Bujang selama hidupnya.

Sebagai seorang jagoan kharismatik, Bujang merupakan contoh pria yang bakal banyak disukai wanita. Tapi buat aku sendiri, Bujang bukan karakter favorit. Entahlah, mungkin karena aku melihat Bujang terlalu 'kejam'. Dan jarangnya adegan romantis dalam dua novel ini membuat Bujang tidak menunjukkan sisi romantisnya, atau memang dia bukan tipe pria romantis. Dari sini aku pun sadar bahwa aku cenderung melihat sisi romantis seorang pria untuk bisa jatuh hati padanya, ya. Hahahaaa *lupakan

3. Ali, dari seri petualangan Bumi, Bulan, Matahari, Bintang
Yang satu ini adalah remaja SMA yang lumayan nyeleneh. Dia pintar, IQ-nya di atas rata-rata, tapi menyebalkannya luar biasa. Mentang-mentang sudah pintar, dia lebih sering nggak menyimak penjelasan guru di kelas. Kadang suka sok tahu menjelaskan sesuatu pada dua sahabat ceweknya, Raib dan Seli. Tapi secara mengejutkan dan mengagumkan, dia bisa menciptakan alat-alat ajaib yang diadopsinya dari gabungan teknologi antar klan.

Sebenarnya Ali bisa menjadi tokoh yang difavoritkan. Tapi aku hanya akan menempatkan dia sebagai remaja menyebalkan yang bakal kujitak setiap kali bicara sok tahu. Bang TL juga punya tokoh remaja cowok seperti Ali, namanya Soke Bahtera (novel Hujan). Sama-sama pintar--tapi jelas Soke jauh dari kata menyebalkan. Kalau keduanya disandingkan, aku yakin penggemarnya Soke lebih banyak. Hahaa.

Btw, aku berharap si biang kerok ini berjodoh sama Raib. Meskipun sifat mereka bertolak belakang, aku merasa mereka cocok satu sama lain. Mudah-mudahan Bang TL mempersatukan keduanya di akhir seri petualangan ini. Aamiin xD

4. Zaman Zulkarnaen, dari Tentang Kamu
Laki-laki ini sebenarnya cukup mempesona. Dia lama tinggal di luar negeri, lulusan universitas terbaik di London, dan bekerja di sebuah firma hukum yang punya reputasi hebat. Namanya pun keren, ya? Zaman Zulkarnaen. Nggak pasaran dan berkarakter. Aku selalu suka cara Bang TL menamai tokoh-tokoh novelnya.

Sayangnya Zaman nggak menjadi bintang di novelnya, karena dia hanya sebagai tokoh perantara, pengantar dari cerita sebenarnya yang berpusat pada sejarah hidup Sri Ningsih. Ini membuat pesona Zaman kurang menonjol, seakan tersisihkan oleh kisah sang tokoh utama. Tapi aku senang di akhir cerita Bang TL menjodohkan Zaman dengan perawat cantik berdarah asli Perancis bernama Aimee. Ciyeee, semoga langgeng ya, Bang Zaman :))

5. Hakan Karim, dari Tentang Kamu
Masih dari novel yang sama, dari kisah hidup perempuan paling inspiratif dalam sejarah novel yang ditulis Bang TL (menurut penilaianku, sih). Pria ini adalah suaminya Sri Ningsih. Orang Turki, usianya aku lupa (kalau nggak salah sudah kepala 4 saat ketemu Sri Ningsih). Dia pria yang romantis dan cukup nekat.

Kalau belum baca novelnya, ini kubocorkan sedikit bagian paling kusuka dari Sri Ningsih dan Hakan Karim. Mereka bertemu saat Sri Ningsih jadi supir bus Kota London. Hari itu Hakan terkesan sama sikap tegasnya Sri pada salah satu penumpang yang nggak bisa diajak kerja sama, merugikan penumpang lain, Sri mengusirnya turun. Setelah hari itu, Hakan selalu naik bus yang disupiri oleh Sri hanya untuk mengenal Sri lebih dekat. Padahal tempat tinggal Hakan dan tempat dia bekerja tidak dilewati rute bus Sri. Dia rela memutar jauh, dan bikin alasan macam-macam agar jadwal berangkat kerjanya pas dengan jam kedatangan bus Sri. Awalnya Sri tidak mau percaya kalau Hakan benar-benar jatuh cinta padanya. Tapi karena kegigihan Hakan, dan pertemuan-pertemuan yang selalu terjadi di antara mereka, akhirnya Sri menerima dan percaya bahwa Hakan adalah jodohnya.

Karakter Hakan ini nyaris sempurna. Sayangnya tidak banyak yang diceritakan tentang dirinya karena Bang TL tidak memberinya umur panjang. Well, biarlah dia tinggal jadi kenangan buat Ibu Sri Ningsih :")

6. Ambo Uleng, dari Rindu
Aku baca novelnya, tapi sudah lama sekali. Mungkin 3 tahun yang lalu. Makanya tadi sempat nggak ingat sama nama tokoh yang satu ini. Hihiii. Sedikit yang kuingat, Bang Ambo ini awak di sebuah kapal yang memberangkatkan para jemaah haji. Setting waktu dalam novel ini masih pada saat zaman penjajah kolonial Belanda, makanya waktu itu perjalanan jemaah haji ke Mekkah baru bisa ditempuh lewat perairan. Bang Ambo agak misterius, punya kisah masa lalu yang cukup kelam (kalau nggak salah). Well, berhubung banyak lupanya sama Abang satu ini, nggak banyak juga yang bisa kuceritakan.

7. Tegar, dari Sunset Bersama Rosie (Sunset & Rosie, pada edisi cetakan terbaru)
Belum baca novelnya.

9. Danar, dari Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Tidak ada cela pada sosok yang satu ini. Sudah mapan, baik hati, lemah lembut pada anak-anak, dermawan pula. Hanya saja dialah tokoh dari semua novel Bang TL yang paling tidak kusukai.

Kupikir Danar ini laki-laki yang sangat pengecut. Dia mencintai Tamia, dan dia sadar akan perasaan itu. Tapi dia memilih untuk menebas perasaannya jauh sampai ke akar. Lalu mengorbankan perasaan Tania yang telah dibuatnya jatuh cinta padanya. Dia juga ikut menumbalkan perasaan Ratna yang mencintainya setulus hati. Meski dia menikahi Ratna, namun hatinya tak pernah terpaut pada Ratna. Karena dia masih sangat mencintai Tania bagaimanapun dia berusaha untuk melupakannya.

Aku nggak bisa mengerti Danar. Mungkin dia punya alasan, atau suatu sebab yang mengharuskannya membuang perasaan terhadap Tania. Andai saja Bang TL membuat akhir dari cerita ini lebih jelas. Atau aku berharap saja akan ada sekuel untuk novel ini :P

10. Ray, dari Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Entah kenapa pada pemahamanku, Ray ini semacam gabungan dari Bujang dan Borno. Cerdas tapi agak bajingan seperti Bujang, dan seorang pejuang hidup yang gigih seperti Borno. Karena novel Rembulan lebih dulu terbit daripada PULANG atau Sepucuk Angpau, maka mungkin lebih tepatnya karakter Borno dan Bujang-lah yang diilhami dari Ray.

Nama aslinya Raihan. Kisah hidupnya cukup kelam. Kalau bisa dibilang, barangkali semua kepahitan hidup pernah dia rasakan. Orangtuanya meninggal saat dia masih balita dalam tragedi kebakaran rumah. Di panti asuhan, dia disisihkan karena jadi anak paling nakal. Esok lusa saat dewasa, dia bertemu dengan pencuri ulung dan bekerja sama merampok sebuah tempat. Namun belakangan dia tahu bahwa partner in crime-nya ini adalah orang yang dulu menyulut api hingga membuat rumahnya terbakar dan menyebabkan kedua orangtuanya meninggal. Lalu ketika dia akhirnya bertemu dengan seorang wanita, jatuh cinta dan menikah, kebahagiaannya pun terenggut dengan meninggalnya sang istri tercinta. Hidup seperti itulah yang membentuknya menjadi seorang bajingan tangguh.

Daripada membencinya, aku lebih merasa kasihan pada Ray. Jika ada orang seperti Ray di dunia nyata ini, hidupnya sungguh menyedihkan. Ah, tapi dalam kehidupan ini barangkali justru banyak yang lebih menyedihkan dan memilukan dibanding kisah novel. Benar, nggak?

11. Burlian, dari Burlian (Serial Anak Mamak)
Belum baca novelnya.

12. Pukat, dari Pukat (Serial Anak Mamak)
Belum baca novelnya.

13. Jim, dari Kisah Sang Penandai
Belum baca novelnya.

14. Soke Bahtera, dari HUJAN
Remaja ini sanggup bersaing dengan tokoh-tokoh pria lain dari novel-novel Bang TL. Meskipun masih muda, dia nggak kalah mempesona dan berkharisma. Bayangkan saja. Umurnya masih muda, cerdas, dan pemberani. Kecerdasannya mungkin sebanding dengan Ali, karena Soke juga menciptakan sesuatu yang mutakhir di dunia tempatnya tinggal (dia juga bergabung dalam kelompok ilmuwan elit). Bedanya, Soke punya karakteristik yang menyenangkan.

Pada awal cerita, saat masih remaja, dia dikenal dengan nama Esok. (Kutebak nama Soke itu hanya anagram dari Esok. Sekali lagi kukatakan, aku selalu suka bagaimana  cara Tere Liye memilihkan nama untuk tokoh-tokohnya). Anak remaja ini digambarkan begitu menyayangi ibunya, dan sangat peduli pada Lail, sahabatnya (tokoh utama novel HUJAN). Dan aku suka sekali ending novel ini.

Tapi itu nggak selalu berarti bahwa Soke atau Esok menjadi karakter favoritku. Aku menyukainya, tapi masih ada satu tokoh yang membuat hatiku luluh *eaaak.

8. Borno, dari Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah
Bingo! Ini dia karakter yang paling kusuka dari semua tokoh novel-novel Bang TL. Ini juga kenapa ulasannya kutulis paling bontot, padahal urutan nomornya 8. Save the best for the last, sisakan bagian terbaik untuk saat-saat terakhir, bukan? Hihiii~

Abang Borno ini asli anak Kalimantan, tinggal di tepian Sungai Kapuas. Kebayang deh bagaimana indahnya tempat itu. Dia tumbuh tangguh di tengah kehidupan yang berat setelah bapaknya meninggal. Aku menyukai wataknya yang pekerja keras dan pantang menyerah. Sudah beberapa kali dia melamar kerja, sudah diterima, tapi banyak hal membuatnya berhenti. Akhirnya meskipun berijazah SMA, Borno memilih jadi tukang sepit seperti bapaknya (perahu kayu yang dijalankan dengan mesin, sebagai alat transportasi murah di perairan Kapuas). Untungnya Borno jadi tukang sepit, karena di sinilah dia bertemu dengan Mei, wanita keturunan Cina yang akan menjadi sang pujaan hati.

Borno hidup sederhana, tapi tidak pernah mengeluh. Banyak kesulitan menghadangnya, tapi dia tidak pernah menyerah. Pernah dia nekat menjual sepitnya, satu-satunya barang berharga miliknya, demi membuka bengkel kecil-kecilan. Sukses dengan bengkelnya, ayah dari sahabatnya kemudian mengajak Borno membuka bengkel yang lebih besar di kota. Ada orang yang menjual toko dengan harga cukup murah. Namun naas, mereka tertipu. Habis harta, habis harapan. Tapi Borno tidak juga menyerah, memutuskan menjalankan bengkel apa adanya hingga sukses.

Borno menjadi cerminan bagaimana seorang laki-laki harusnya berjuang dalam hidup. Tidak hanya laki-laki sih, wanita juga harusnya begitu. Maksudku, laki-laki seperti Borno ini adalah jenis pria yang pantas menjadi idaman. Tidak perlu banyak gaya, tidak perlu show off, cukup jadi seseorang yang sederhana dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Maka hati wanita mana yang tidak akan luluh dengannya? *eaaalagi *edisibaper xDD